Monday, June 2, 2008


Rupanya kesuksesan lineup Vostro dari Dell membuat perusahaan ini antusias untuk memproduksi seri Vostro ini. Seri Vostro terbaru yang diluncurkan Dell adalah Dell Vostro 1310 yang sekaligus merupakan notebook seri Vostro terkecil karena display-nya hanya berukuran 13,3 inch.

Dell Vostro 1310 sendiri tersedia dalam beberapa type processor, mulai dari processor 1.86GHz Celeron M M540 hingga processor Intel T9500 2.6GHz Core 2 Duo. Untuk display monitor Dell Vostro 1310 pun tersedia dalam dua macam type, yaitu display 1280x800 WXGA dengan tampilan matte anti-glare coating dan display 1280x800 WXGA "TrueLife" glossy. Untuk harga, si kecil Dell Vostro 1310 ini dilepas di pasaran mulai $749 dollar Amerika.

Berikut ini merupakan salah satu spesifikasi Dell Vostro 1310 seharga $1,357 :

  • Processor: Intel Core 2 Duo T8100 (2.1GHz)
  • Memory: 2GB - 2 DIMM (DDR2-667) (4GB max)
  • HDD: 160GB 5400RPM HDD
  • Graphics: 128MB NVIDIA GeForce 8400M GS
  • Display: 13.3" WXGA Antiglare
  • Optical drive: Slot-loading 8x DVD +/- RW
  • OS: Vista Business SP1 (available with XP Professional)
  • Software: 30-day security subscription anti-virus, No trail-ware
  • Wireless: Dell 1505 Wireless-N Mini Card (802.11a/g/n)
  • Battery: 6-cell battery
  • Other: Webcam and fingerprint reader
  • Services: Network assistant; 10GB of Datasafe online; Dell Support Center; PC Tune-up
  • Dimensions (HxWxD): 0.94" (front)/1.59" (back) x 12.48" x 9.57"
  • Weight: 4.45 lbs (with 4-cell battery), 4.63 lbs (with 6-cell battery)
sumber : beritanet.com

Cukup Klik, Tanpa Pensil, Tanpa Kertas Ujian.......

PARA siswa tampak tekun menghadapi layar komputer. Tangan mereka lincah memainkan tetikus (mouse). Sedang asyik main game? Tentu tidak.

Yang terlihat di muka adalah dahi yang berkerut pertanda para siswa sedang berpikir keras. Wajar karena memang siswa kelas III Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Majene, Sulawesi Barat, sedang menghadapi ujian akhir sekolah. Namun, berbeda dari sekolah kebanyakan, selama seminggu, sejak Senin (5/5) pagi, siswa kelas III SMK 2 Majene kelompok Bisnis dan Manajemen menjalani ujian akhir sekolah berbasis online.

Di hadapan siswa, tidak ada lembaran kertas yang mesti diisi, atau pensil dan pena untuk mengisi jawaban. Dengan sistem ini, setiap siswa mendapat meja lengkap dengan satu set komputer. Dengan memasukkan password nomor ujian mereka, setiap siswa akan mendapatkan soal pilihan ganda (multiple choice). Satu siswa dengan siswa lain mendapatkan soal yang berbeda urutannya.

Menurut administrator ujian SMK 2 Majene, Rusman Rahman, sekalipun total 50 soal sama, sistem memungkinkan soal-soal itu teracak susunannya. Dengan begitu, siswa akan lebih sulit kalau ingin berbuat curang. "Susah kalau mau mencontek," ujar Rusman menirukan tanggapan para siswa.

Tinggal klik

Selama ujian yang berlangsung 90 menit per mata pelajaran, mereka tinggal mengklik pada pilihan jawaban yang dianggap benar. Bagi Sukardi Yunus, siswa jurusan Perkantoran, sistem ujian online relatif lebih enak ketimbang ujian dengan cara konvensional. Yang jelas, siswa tidak perlu repot-repot menulis di lembar jawaban.

Yang lebih enak lagi, setidaknya bagi guru, hasilnya bisa langsung diketahui selepas ujian. Cukup dengan memerintahkan "proses dan periksa", siswa langsung mengetahui nilai ujian yang baru saja ditempuhnya.

Para guru tentu lebih nyaman dengan sistem ini sekalipun selambat-lambatnya seminggu sebelum pelaksanaan ujian, mereka mesti merampungkan soal-soal yang akan diujikan. Waktu seminggu dibutuhkan untuk meng-input soal.

Di sekolah yang terletak di Jalan Ratulangi No 9, Kelurahan Banggae, Kecamatan Banggae, ini, ujian akhir sekolah dengan online sudah dilaksanakan kedua kalinya pada tahun ini. Selain ujian akhir, ujian semesteran pun sudah rutin dilaksanakan dengan sistem online. Untuk tahun ini, sebanyak 118 siswa kelas III SMK 2 Majene mengikuti ujian akhir sekolah. Selain itu, 22 siswa SMK Negeri 5 Majene juga ikut tergabung mengikuti ujian online di sekolah ini.

Menurut Rusman, sistem online di SMK 2 Majene bukan hal yang baru sama sekali. SMK 2 Majene yang berdiri sejak 1969 termasuk sekolah yang dipilih Departemen Pendidikan Nasional untuk program pengembangan teknologi komunikasi dan informasi di sekolah.

Awalnya, memang sulit untuk menjalankan sistem ujian online tersebut. Namun, nyatanya, sejak 2006 sistem tersebut bisa diterapkan. Di tataran praktis, ujian online juga terbukti menghemat anggaran.

Sekalipun secara umum lebih menguntungkan siswa dan guru, tetap saja ada masalah yang terkadang membuat pelaksana ujian ketar-ketir. Pasokan listrik di Sulawesi yang secara umum tidak cukup senantiasa menjadi kendala klasik. Untungnya, ada uninterruptible power supply (UPS) yang setidaknya cukup untuk 30 menit jika listrik tiba-tiba padam.

Namun, Rusman mengaku siap jika model ujian online bisa dikembangkan lebih lanjut. Bukan sekadar SMK 2 saja, bisa saja sistem tersebut dikembangkan untuk seluruh Majene ataupun Sulawesi Barat. Bahkan, bukan sekadar ujian akhir sekolah, bisa saja sistem ujian itu diterapkan untuk ujian nasional. Mau?

Sumber : Kompas

Berkat Bluethoot, Kaki pun Bisa Melangkah Kembali

Washington - Senyum Joshua Bleill kembali terkembang. Kini, ia bisa berjalan lagi dengan bantuan kaki palsu berteknologi tinggi untuk menggantikan kakinya yang telah diamputasi. Pada kaki palsu tersebut teknologi Bluetooth ditautkan di dalamnya.

Semuanya berawal ketika Bleill, yang bekerja sebagai angkatan laut AS dikirim ke daerah konflik di Irak. Naas, ketika berpatroli tentara 30 tahun ini terkena ledakan bom.

Alhasil, Bleill harus merelakan kakinya hingga atas lutut untuk diamputasi. Di bagian pinggulnya juga ditanamkan 32 pen dan sebuah sekrup berukuran 6 inchi di kedua tulang panggulnya.

Agar bisa berjalan kembali, Bleill kemudian menggunakan kaki palsu. Namun kaki buatan yang diberikan kepada Bleill lain daripada yang lain, sebab dilengkapi dengan perangkat Bluetooth.

Chip komputer ditanamkan di tiap kaki untuk mengirimkan sinyal ke motor di kedua sendi buatan, sehingga lutut dan mata kaki dapat berpindah dalam gerakan yang terkoordinasi. Bluetooth yang dipasangkan di tiap kaki saling berkoordinasi untuk melakukan perpindahan, berjalan, berdiri atau mendaki.

Teknologi ini memungkinkan Bleill dan rekannya yang juga mengalami nasib sama, Gregory Gadson, untuk berjalan lebih lama daripada menggunakan kaki palsu lainnya, karena teknologi ini diklaim tidak membuat kaki cepat terasa panas.

Bleill pun mulai bisa mengurangi ketergantungannya pada kursi roda. Namun untuk menopang langkahnya, veteran ini masih harus dibantu dengan dua tongkat. Ia juga berharap kelak hanya menggunakan satu tongkat atau justru tidak perlu sama sekali.

Namun, ada saja kekurangan dalam menggunakan teknologi kaki palsu Bluetooth ini. "Terkadang saya bingung dengan reaksi teknologi ini. Kadang saya menendang terlalu keras, berpindah terlalu cepat daripada yang saya inginkan," ungkap Bleill tentang kelemahan alat ini.

Selain itu, seperti dikutip detikINET dari CNN, Rabu (30/1/2008), karena menggunakan teknologi Bluetooth, maka kedua kaki Bleill harus di-charging sepanjang malam, karena tidak ada baterai cadangan.